Wednesday, 27 November 2013

Pasangan dari Tuhan (nice to read)

Pasangan dari Tuhan

Bertahun-tahun yang lalu, Aku berdoa kepada Tuhan untuk memberikan pasangan hidup, "Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya", Tuhan menjawab.

Tidak hanya Aku meminta kepada Tuhan, Aku menjelaskan kriteria pasangan yang kuinginkan. Aku menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian. Aku bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini kuimpikan.

Sejalan dengan berlalunya waktu, Aku menambahkan daftar kriteria yang kuinginkan dalam pasanganku. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hatiku," Hamba-Ku, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan."

Aku bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia menjawab, "Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar."

Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dari-Mu?"

Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskannya kepada-Mu. Adalah suatu ketidak-adilan dan ketidak benaran bagi-Ku untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagi-Ku untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam, atau seseorang yang mudah mengampuni; tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam, seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."

Kemudian Ia berkata kepadaku, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu. Pasanganmu akan akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. 


Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan
adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu."

Ini untuk: yang baru saja menikah, yang sudah menikah, yang akan
menikah, dan yang sedang mencari...:)

Merawatmu di Usia Senja

Merawatmu di Usia Senja

Robertson McQuilkin mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai rektor di Universitas Internasional Columbia dengan alasan merawat istrinya Muriel yang sakit alzheimer, yaitu gangguan fungsi otak. Muriel sudah seperti bayi,tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk makan,mandi dan buang airpun ia harus dibantu.

Robertson memutuskan untuk merawat istrinya dgn tangannya sendiri,karena Muriel adalah wanita yg sangat istimewa baginya.

Pernah suatu kali ketika Robertson membersihkan lantai bekas ompol Muriel dan di luar kesadaran, Muriel malah menyerakkan air seninya sendiri, sehingga Robertson kehilangan kendali emosinya. Ia menepis tangan Muriel dan memukul betisnya, guna menghentikannya. Setelah itu Robertson menyesal dan berkata dalam hatinya, "Apa gunanya saya memukulnya,walaupun tidak
keras, tetapi itu cukup mengejutkannya.

Selama 44 tahun kami menikah,saya belum pernah menyentuhnya karena marah, namun kini di saat ia sangat membutuhkan saya,saya memperlakukannya demikian. Ampuni saya, ya Tuhan." Tanpa peduli apakah Muriel mengerti atau tidak, Robertson meminta maaf atas hal yang telah dilakukannya.

Pada tanggal 14 Februari 1995, hari itu adalah hari istimewa untuk
Robertson dan Muriel, karena pada tanggal itu di tahun 1948, Robertson melamar Muriel. Pada hari istimewa itu Robertson memandikan Muriel, lalu menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan Muriel.Menjelang tidur ia mencium dan menggenggam tangan Muriel lalu berdoa, "Tuhan yang baik, Engkau mengasihi Muriel lebih dari aku mengasihinya, karena itu jagalah kekasih hatiku ini sepanjang malam dan biarlah ia mendengar nyanyian malaikatMu.
Amin."

Pagi harinya, ketika Robertson berolahraga dengan menggunakan
sepeda  statisnya,Muriel terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk
mengambil posisi yang nyaman, kemudian melempar senyum manis kepada Robertson. Untuk pertama kalinya setelah selama berbulan-bulan Muriel tidak pernah berbicara, memanggil Robertson dengan suara yang lembut dan bening, "Sayangku ... sayangku ..." Robertson melompat dari sepedanya dan segera memeluk wanita yang sangat dikasihinya itu. "Sayangku, kau benar2 mencintaiku bukan ?" tanya Muriel. Setelah melihat anggukan dan senyum
diwajah Robertson, Muriel berbisik, "Aku bahagia !" Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Muriel kepada Robertson.

Memelihara dan membahagiakan orang-orang yang berarti dalam hidup kita adalah suatu ibadah di hadapan Tuhan. Mengurus suami atau isteri yang sudah tidak berdaya adalah suatu perbuatan yang mulia. Mengurus ayah/ibu atau mertua adalah tugas anak ataupun menantu. Mengurus kakek atau nenek yang sudah renta dan pikun juga adalah tanggung jawab para cucu. Jangan abaikan mereka yang telah renta, apalagi ketika mereka sudah tidak bisa berbuat apa2 lagi. Peliharalah mereka dengan kesabaran dan penuh kasih



Source: Unknown (Tidak Diketahui)

Tuesday, 26 November 2013

blame and fault (& mistakes)

>Sometimes we spend time asking who is responsible or who to blame, whether in a relationship, in a job or with the people we know. We miss out some warmth in human relationship to give each other support. Treasure what you have. Just a little story for you.
>
>A boy was born to a couple after eleven years of marriage. They were a loving couple and the boy was the apple of their eyes. When the boy was around two years old,one morning the husband saw a medicine bottle open. He was late for work so he asked the wife to cap the bottle and keep it in the cupboard. The mother, preoccupied in the kitchen totally forgot the matter. The boy saw the bottle and playfully went to the bottle and, fascinated with its color, drank it all.


>It happened to be poisonous medicine meant for adults in small dosages. 


>When the child collasped, the mother hurried him to the hospital, where he died.
>
>The mother was stunned. She was terrified how to face her husband. When the distraught father came to the hospital and saw the dead child, he looked at his wife and uttered just four words.
>
>QUESTIONS :
>1.  What were the four words ?
>2.  What  is the implication of this story ?
>Pls think of the four words that you as husband
>would say.......
>
>Pls scroll down......
>
>
>ANSWER :The husband just said "I Love You Darling"
>
>The husband's totally unexpected  reaction is proactive behavior. The child is dead. He can never
>be brought back to life. There is no point in finding fault with the mother. Besides, if only he have taken time to keep the bottle away,  this will not happened. No point to blame. She had also lost her only child. 


>What she needed at that moment was consolation and sympathy from the husband. That is what he gave her.
>
>If everyone can look at life with this kind of perspective, there would be much fewer problems in the world.

>To be happy with a man you must understand him a lot and love him a little.
>
>To be happy with a woman you must understand her a lot and love her with all your heart.
>
>"A journey of a thousand miles, begins with but with a single step."
>
>Take off all your envies, jealousies, unforgiveness, selfishness, and fears
>AND you will find things are actually not so difficult as you think."
>

lucu ya.....(malu hati jadinya)

UNTUK KITA RENUNGKAN........INSYA ALLAH BERMANFAAT!!

Lucu ya,
        uang Rp 20,000an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal
        mesjid, tapi begitu kecil bila kita bawa  ke supermarket...

       
        Lucu ya,
        45 menit terasa terlalu lama untuk berdzikir,
        tapi betapa pendeknya waktu itu
        untuk pertandingan liga Italy...

        Lucu ya,
        betapa lamanya 2 jam berada di Masjid,
        tapi betapa cepatnya 2 jam
        berlalu saat menikmati pemutaran
        film di bioskop...

        Lucu ya,
        susah merangkai kata untuk
        dipanjatkan saat berdoa atau sholat,
        tapi betapa mudahnya cari bahan
        obrolan bila ketemu teman...

        Lucu ya,
        betapa serunya perpanjangan waktu
        dipertandingan bola favorit kita,
        tapi betapa bosannya bila imam
        sholat Tarawih bulan Ramadhan kelamaan
        bacaannya...

        Lucu ya,
        susah banget baca Al-Quran 1 juz saja,
        tapi novel best-seller 100
        halamanpun habis dilalap...

        Lucu ya,
        orang-orang pada berebut paling
        depan untuk nonton bola atau konser
        tapi berebut cari shaf paling
        belakang bila Jumatan agar bisa
        cepat keluar...

        Lucu ya,
        kita perlu undangan pengajian 3-4
        minggu sebelumnya agar bisa disiapkan di
        agenda kita,
        tapi untuk acara lain jadwal kita
        gampang diubah seketika...

        Lucu ya,
        susahnya orang mengajak
        partisipasi untuk dakwah,
        tapi mudahnya orang
        berpartisipasi menyebar gossip...

        Lucu ya,
        kita begitu percaya pada yang
        dikatakan koran,
        tapi kita sering mempertanyakan
        apa yang dikatakan Al Quran...

        Lucu ya,
        semua orang pinginnya masuk surga
        tanpa harus beriman, berpikir,
        berbicara ataupun melakukan
        apa-apa...

        Lucu ya,
        kita bisa ngirim ribuan jokes
        lewat email,
        tapi bila ngirim yang berkaitan
        dengan ibadah sering mesti
        berpikir dua-kali...

        LUCU YA ?!!
       
        "Dan sampaikanlah berita gembira
        kepada orang-orang mu'min bahwa
        sesungguhnya bagi mereka karunia
        yang besar dari Allah." (QS.  33:47)

TAK TAHU AKU APA JATI DIRIKU KINI (Puisi Pak Taufiq Ismail)

Swbagai bahan renungan....
> >
> >
> >TAK TAHU AKU APA JATI DIRIKU KINI
> >
> >TAUFIQ ISMAIL
> >
> >Kita hampir paripurna jadi bangsa porak poranda, terbungkuk dibebani hutang dan merayap melata sengsara didunia.Pengganggur 40 juta orang, anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid, pecandu narkoba 6 juta, pengungsi 1 juta, VCD koitus 20 juta keeping, beban hutang dibahu 160 trilyun dan kriminalitas merebak disetiap tikunggan jalan,
> >
> >Sebagai bangsa kita dibelah dan dipecah, tiang hukum berdiri goyah, represi opini dulu 39 tahun lamanya kini jadi lepas bablas, massa mudah marah, gampang membakar, dan ringan membunuh. Harga semua barang naik. Harga yang turun dan murah masih ada satu, yaitu harga nyawa.


> >Dalam semua hal Indonesia sudah mirip neraka, dan sorga satu-satunya yang kita miliki adalah sorga pornografi piring cakram vcd bajakan di dunia,
> >
> >Batas halal dan haram di negri kita sudah tidak jelas, seperti benang hitam terbentang di hutan gelap jam satu malam. Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret, jalan di depan dikuasai maling, yang di belakang tukang peras, yang di atas tukang tindas. Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia kini, sudah untung,
> >
> >Pergelanggan tangan dan kaki Indonesia diborgol di ruang tamu Kantor Pegadaian Jagat Raya, dan dipunggung kita kaos oblong dicap sablon besar-besar: Tahanan IMF dan Bank Dunia. Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu di dunia, diusir pula di tangga pelabuhan terapung-apung di lautan,
> >
> >Kita sudah tidak merdeka lagi. Indonesia sudah masuk ke dalam masa kolonialisme baru, dengan penjajah yang banyak negara sekaligus,
> >
> >Nilai-nilai luhur telah luluh lantak, berkeping-keping dan hancur, berserakan di kubangan Lumpur,
> >
> >Kening saya mungkin masih ingin jadi cermin keimanan, tapi sepatu dan celana saya terbenam dan terpecik lumpur tipu-menipu,
> >
> >Hati saya rindu pada nilai keterus-terangan, tapi setiap hari saya terus berdusta, langsung dan tak langsung, di belakang orang dan bermuka-muka,
> >
> >Nilai ketertiban ingin saya tegakkan, tapi bila lampu merah di simpang jalan menyala, dan mobil-mobil di belakang saya bising dengan klaksonnya, saya pun melanggar lampu merah itu tampa rasa bersalah,
> >
> >Nilai sedekah saya hitung dengan akuntansi pahala dan publikasi media massa. Kalau sumbangan saya tidak mendapat di halaman depan atau diliput kamera tayangan berita, sifat ingin menonjol saya tidak sudi dikorbankan,
> >
> >Nilai ikhlas dalam beramal, saya campur-adukkan dengan sifat riya', karena saya gemar benar mengatakan dan menunjukkan kepada teman-teman saya, bahwa saya pemegang medali emas, pemenang nomer satu dalam olimpiade keikhlasan,
> >
> >Nilai kejujuran saya tegakan mati-matian utnuk seluruh bangsa, tapi kalau kawan-kawan menawarkan proyek dengan mark-up setinggi pohon kelapa, atau apa saja sepak-terjang yang melibatkan pemasukan uang, demi ideologi nilai kejujuran itu saya skors sementara,
> >
> >Nilai kerja-keras bercucuran peluh selalu saya ajarkan kepada anak-cucu-kemenakan saya, tapi sebenarnya dalam praktek sehari-hari jalan memotong yang saya kerjakan, dan itu saya sembunyikan,
> >
> >Nilai menghargai nyawa manusia, heran sekali saya, pudar dalam diri saya. Melihat anak muda dipukuli massa, lembam-lembam, berdarah-darah tak berdaya, karena ketahuan melarikan motor bukan miliknya, kemudian tergeletak sebagai mayat, saya tidak haru lagi seperti lima tahun yang lalu. Saya pergi saja dari kerumunan massa yang pemarah itu, yang tak bertanya a atau u,
> >
> >Saya sudah kebal. Saya sudah kebal.
> >
> >Kemudian sore ini saudara saya bertanya pada saya, bagaimana jati diri saya ?
> >
> >Saya beberapa detik memandang saudara. Ini mengejek, menyindir, menusuk perasaan, atau apa ?
> >
> >Lihat saja sepatu saya berkubang Lumpur, celana saya terpecik Lumpur bercampur air selokan kumuh, wajah saya keruh, pusat susunan syaraf saya berlumpur, hati saya berbalut Lumpur. Cukup ?
> >
> >Sekarang tolong saya membersihkan ini semua. Tolong. Jangan saya beri teori, dikuliahi itu dan ini, dinasihati dengan petuah-petuah zaman kiwari. Cukup, cukup, cukup.
> >
> >Telanjangi saya sekarang dan mandikan saya bersih-bersih. Tolong.
> >
> >25.3.