http://www.topix.com/forum/world/malaysia/TK0N4JV3RJMF6L4SU/p24
Menurut mitologi (ilmu kemusyrikan) kaum Kejawen Yogya, yang berpusat di Kraton Yogya. Merapi dianggap sebagai titik Utara, lalu Pantai Selatan sebagai titik Selatan. Semua titik ini membangun “pertahanan kosmis” yang melindungi Yogya dari segala ancaman. Oleh karena itu, kaum musyrik di Yogya (meskipun KTP-nya tertulis Islam), selalu melakukan ritual untuk mencari ridha sang penunggu titik Utara dan titik Selatan. Ritual kemusyrikan itu rutin dilakukan setiap tahun.
Lalu, apa yang terjadi setelah semua ritual kemusyrikan dilakukan? Apakah Merapi diam? Apakah Merapi ramah? Ternyata, hukum alam tidak mengikuti sunnah kemusyrikan, tetapi mengikuti Sabda Rabbul ‘alamiin. Merapi mengamuk. Semakin musyrik orang-orang itu, Merapi menghantam lebih keras. Bisa jadi, suatu masa, jika kemusyrikan terus menyala-nyala, Yogyakarta akan dilamun tsunami dari Pantai Selatan. Semua ini hanya soal waktu saja. Lihatlah, kalau kaum musyrikin itu tidak mau bertaubat, tidak segera kembali ke agama yang benar, niscaya hukum alam (sunnatullah) akan menggulung rumah-rumah mereka, bisnis mereka, resort-resort mereka. Mari kita sama-sama menanti!
Cukuplah…Gempa Yogya dan Amukan Merapi menjadi nasehat berharga, bagi mereka, bagi bangsa Indonesia, dan bagi kita semua.
Bacalah:“Maka siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman (bertauhid) kepada Allah, maka dia telah berpegang kepada tali agama Allah yang sangat kuat, yang tak akan putus selama-lamanya.”(Al Baqarah: 256).
Gunung Merapi adalah nasehat…Terserah Anda mau mengambil nasehat itu, atau mengabaikannya…
Wednesday, 13 November 2013
Sedekah Bumi Kasultanan: Baru Lebaran Sudah Kembali Musyrik
http://www.voa-islam.com/lintasberita/eramuslim/2011/08/31/15979/sedekah-bumi-kasultanan-baru-lebaran-sudah-kembali-musyrik/
Pasukan prajurit Keraton Yogyakarta melakukan gladi resik pengamanan upacara tradisional Grebeg Syawal di Keraton Yogyakarta, Kota Yogyakarta, beberapa hari lalu. Upacara tradisional Grebeg Syawal ini dilaksanakan untuk menyambut 1 Syawal 1432 Hijriah yang bertepatan dengan Idul Fitri 2011.
Setiap memasuki bulan Syawal, Kasultanan Ngayogyakarta mengadakan ritual sedekah bumi yang disebut dengan Grebeg Syawal.
Ritual Grebeg ini hanya diadakan setahun tiga kali. Grebeg pertama dilakukan saat Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai akhir dari pesta rakyat, Sekaten, disebut Grebeg Mulud.
Kedua, saat memasuki bulan Syawal, sebagai ungkapan terimakasih karena telah berhasil menjalankan ibadah puasa, disebut Grebeg Pasa atau Grebeg Syawal. Dan ketiga, pada tanggal 10 Dzulhijjah atau 10 Besar, yang dikenal sebagai Idul Adha, disebut Grebeg Besar.
Semua jenis Grebeg menampilkan Gunungan sebagai penampil utamanya. Gunungan adalah sesaji yang ditata menjadi bentuk kerucut, bahannya adalah sayur-mayur hasil bumi sebut saja, Kacang Panjang, Cabai, Telur, dll. Untuk Grebeg Pasa, Gunungan hanya dibuat satu buah, berbeda untuk Grebeg Mulud yang dibuat dua buah.
Gunungan ini kemudian diarak oleh para abdi dalem Keraton, dari bangsal Keraton menuju Masjid Agung Jogjakarta. Sesampainya di Masjid Agung, Gunungan ini kemudian diserbu oleh para rakyat yang telah menanti, untuk dipreteli. dan dibawa pulang, memang sayur-mayur itu dapat dengan mudah ditemui di pasar-pasar, namun segala hal yang berbau Keraton bagi rakyat Jogja yang masih teguh memegang tradisi adalah sesuatu yang keramat dan membawa rejeki. Istilahya adalah “Ngalap Berkah”.
Memang, tradisi ini tidak lepas dari masuknya pengaruh kemusyrikan-ala paganistik keraton di tanah Jawa. Mereka meyakini akan keberkahan dari prosesi ini. Hanya pada di ritual Grebeg inilah rakyat bisa menyaksikan prajurit keraton dari dekat, terutama saat mereka mengawal Gunungan.
Maka itu tidak heran umat muslim telah diwanti-wanti perihalnawaqidhul Iman (pembatal keimanan) oleh Rasulullah,"Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad No. 8493). (pz/trib/wisma)
MEMINTA PERLINDUNGAN DAN MEMBERI SESAJI PADA JIN
Ibu Katsir menyampaikan dalam kitab tafsirnya bahwa pada mulanya Jin itu takut pada manusia, sebagaimana manusia sekarang ini takut pada jin. Apabila rombongan manusia berhenti disatu tempat maka para jin yang menghuni tempat itu berlarian ketakutan membubarkan diri. Mereka hanya berani mengamati dari jauh apa yang akan dilakukan oleh rombongan manusia itu.

Mereka tercengang ketika pemimpin rombongan itu berseru:” Wahai penguasa lembah ini kami mohon perlindungan padamu dari berbagai bahaya dan kejahatan yang ada dilembah ini”. Mereka saling berbisik :” Lihatlah rupanya manusiapun takut pada kita sebagaimana kita takut pada mereka”. Akhirnya jin itupun mendekati manusia dan mulai berani mendatangkan berbagai gangguan pada mereka.
Diantara Jin itu ada yang berhasil masuk ketubuh salah seorang dari rombongan itu , kemudian dia mulai membual bahwa dialah penguasa daerah itu, ia akan melindungi rombongan tersebut asalkan mau memberi tumbal atau korban berupa sesajen. Rombongan manusia itu percaya pada jin yang masuk ketubuh orang tersebut dan mulai menuruti semua permintaan jin tersebut, mulai dari menyembelih ayam cemani, menamam kepala kerbau, menyuguhkan bunga tujuh rupa dan lain sebagainya. Inilah asal muasal munculnya berbagai ritual musyrik diseluruh pelosok bumi ini.
Di indonesia ritual musyrik seperti ini masih banyak kita dapati dalam rangka minta keselamatan dan perlindungan dari jin penguasa suatu daerah. Ketika mau membangun rumah , jembatan atau bangunan lainnya diadakan upacara menaman kepala kerbau. Di Minang kabau ketika masih kecil dulu saya melihat orang yang menyembelih ayam ketika akan membangun rumah kemudian darah ayam tersebut ditebar disekeliling rumah yang akan dibangun. Nelayan ditepi pantai juga sering memberikan sesaji ke laut agar tangkapannya banyak.
Jalan tertentu yang sering meminta korban kecelakaan juga tidak luput dari kegiatan musyrik ini. Berdasarkan informasi dari dukun, paranormal atau beberapa orang yang kesurupan jin dilakukanlah ritual memberikan sesajen ditempat yang dianggap angker tersebut. Orang yang meminta tolong pada penguasa makam atau tempat keramat juga sering melakukan berbagai ritual musyrik. Perbuatan musyrik mempersekutukan Allah dengan sesuatu merupakan perbuatan yang amat dibenci dan dimurkai Allah sebagaimana disebutkan dalam surat An Nisa’ 116
116. Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An Nisa’ 116)
Allah mengancam para pelaku musyrik dengan neraka jahanam sebagaimana disebutkan dalam surat al bayyinah ayat 6
6. Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (Al Bayyinah 6)
Walaupun Allah membenci dan mengancam para pelaku musyrik ini dengan neraka jahanam , perbuatan ini tetap saja marak dilakukan orang . Di Indonesia masih banyak daerah dan adat istiadat masyarakat yang melakukan kegiatan atau ritual musyrik ini. Mereka memberikan persembahan berupa kurban hewan, sesaji , makanan , buah buahan bagi penguasa ghaib didaerah itu.
Beberapa kegiatan dan tradisi musyrik yang dilakukan masyarakat di Pulau jawa antara lain yang ditulis ustadz Abulfaruq Ayip Syafrudin di majalah Asyariah edisi 67 sebagai berikut :
Di desa Pendem kecamatan Sumberlawang, Sragen terdapat sebuah bukit yang disebut Gunung Kemukus. Malam jum’at Pon merupakan malam keramaian . . Manusia berdatangan ke Gunung Kemukus dalam rangka menjalani laku tirakat ngalap berkah di makam yang ada di tempat itu. Makam di perbukitan yang berada di tengah Waduk Kedungombo ini, konon merupakan makam Pangeran Samodra dan Nyai Ontrowulan. Ritual ngalap berkah di Gunung Kemukus diawali dengan prosesi penyucian di Sendang Ontrowulan. Setelah itu, dengan dipandu juru kunci, para peziarah dibimbing guna melakukan ritual sajen. Yaitu, menyerahkan uborampe (perlengkapan sajen) dalam bentuk sebungkus kembang telon, dupa ratus atau kemenyan, dan uang wajib. Dengan uborampe inilah juru kunci akan memohon kepada yang mbaurekso di Gunung Kemukus. (Sajen dan Ritual Orang Jawa, Wahyana Giri MC, hlm. 94—96)
Perilaku mistik lainnya juga dilakukan oleh sebagian masyarakat Yogyakarta, mereka melakukan acara labuhan yaitu sesaji ritual dengan tujuan untuk melestarikan hubungan yang telah lama terjalin antara pihak tertentu dengan kanjeng Ratu Kidul penguasa laut selatan. Sesaji untuk penguasa laut selatan diadakan di Parangkusumo. Sesaji diletakkan pada satu tempat yang disebut petilasan, yaitu tempat terjadinya pertemuan antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul yang memiliki patih bernama Nyai Rara Kidul. Antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul terjalin perjanjian di mana Kanjeng Ratu Kidul berjanji melindungi Panembahan Senopati beserta seluruh keturunannya.
Pelaksanaan doa dilakukan di tempat tersebut dan sesaji pun ditaruh di tempat itu. Juru kunci Parangkusumo mengucapkan, “Perkenankanlah saya, Kanjeng Ratu Kidul untuk menyampaikan sesaji Labuhan kepada Paduka, … untuk keselamatan hidup, kehormatan kerajaan, dan keselamatan rakyat serta negeri Ngayogyakarta Hadiningrat.” Setelah mengucapkan mantra, sesaji itu pun dibawa ke laut. Beberapa sesaji diempaskan ombak kembali ke pantai dan diperebutkan oleh masyarakat. Mereka berkeyakinan bahwa sesaji tersebut memiliki daya untuk memberikan keselamatan, kesehatan, dan kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang mendapatkannya.
Pelaksanaan doa dilakukan di tempat tersebut dan sesaji pun ditaruh di tempat itu. Juru kunci Parangkusumo mengucapkan, “Perkenankanlah saya, Kanjeng Ratu Kidul untuk menyampaikan sesaji Labuhan kepada Paduka, … untuk keselamatan hidup, kehormatan kerajaan, dan keselamatan rakyat serta negeri Ngayogyakarta Hadiningrat.” Setelah mengucapkan mantra, sesaji itu pun dibawa ke laut. Beberapa sesaji diempaskan ombak kembali ke pantai dan diperebutkan oleh masyarakat. Mereka berkeyakinan bahwa sesaji tersebut memiliki daya untuk memberikan keselamatan, kesehatan, dan kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang mendapatkannya.
Upacara Labuhan lainnya juga dilakukan di Gunung Merapi, dan Gunung Lawu (Karanganyar, Jawa Tengah). Ritual Labuhan lainnya dilaksanakan setiap tanggal 30 Rejeb (penanggalan Jawa). Upacara ritual ini banyak dikunjungi oleh orang guna ngalap berkah. Sesaji ditujukan kepada Eyang Kanjeng Pangeran Sapujagad, Pangeran Anom Suryangalam, Eyang Kyai Udononggo, Nyai Udononggo, dan Kyai Jurutaman. Tempat tinggal mereka ada di beberapa tempat di Merapi, seperti di Turgo, Plawangan, dan Wukir Rinenggo di dekat Selo. Upacara doa dilakukan di Kinahrejo, dipimpin oleh abdi dalem kraton, Mas Ngabehi Suraksohargo alias Mbah Maridjan. Sesaji diletakkan di satu tempat bernama Kendit, letaknya di lereng selatan Gunung Merapi. Uborampe (perlengkapan sesaji) terdiri dari kain, setagen, minyak wangi, kemenyan, dan lain-lain.
Ritual Labuhan lainnya dilakukan di Desa Nano, letaknya di lereng Gunung Lawu. Sesaji dikirim ke desa tersebut lalu dibawa oleh delapan orang penduduk asli daerah tersebut. Dipilihnya delapan orang dari penduduk asli daerah itu karena mereka memiliki hubungan spiritual dengan yang mbaurekso (penguasa) Gunung Lawu. (Upacara Tradisional Jawa Menggali Untaian Kearifan Lokal, Dr. Purwadi M. Hum, hlm. 75—78) Upacara ritual semacam yang dipaparkan di atas terjadi di mana-mana. Sebut saja upacara ritual Yudnya Kasada yang dilakukan masyarakat Tengger di kawasan Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Upacara ini dilakukan pada setiap purnama bulan Kasada. Upacara dilakukan menjelang fajar. Saat itulah, masyarakat Tengger (terkhusus yang menganut agama Hindu) mengangkut ongkek (wadah) berisi sesajen yang akan dilarung ke kawah Bromo. Uborampe sesajen ini berisi pisang, labu, cabai, jagung, dan hasil pertanian lainnya.
Di Pelabuhan Lorens Say, Maumere, masyarakat Nasrani di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, mengadakan upacara Parehoba, yaitu menyuguhkan sesajen berupa telur, arak, dan beras kepada penguasa laut dan roh leluhur. Mereka meminta keselamatan kepada penguasa laut dan roh leluhurnya.
Upacara sejenis terjadi di Kabupaten Subang, Jawa Barat, tepatnya di Muara Belanakan. Masyarakat nelayan di daerah ini melakukan ruwatan atau sedekah laut. Bentuknya dengan menyuguhkan sajen berupa kepala kerbau dan darahnya, serta makanan lainnya. Di Flores Tengah, kalangan Suku Lio juga mengadakan ritual semacam ini. Sesajen atau kuwiroe (menurut istilah masyarakat Suku Lio) adalah sebentuk ritual yang ditujukan kepada para dewa, roh, atau arwah nenek moyang. Tujuannya tentu saja dengan sebuah keyakinan bahwa dengan kuwiroe tersebut diharapkan arwah-arwah leluhur bisa memberi perlindungan hidup kepada mereka.
Upacara sejenis terjadi di Kabupaten Subang, Jawa Barat, tepatnya di Muara Belanakan. Masyarakat nelayan di daerah ini melakukan ruwatan atau sedekah laut. Bentuknya dengan menyuguhkan sajen berupa kepala kerbau dan darahnya, serta makanan lainnya. Di Flores Tengah, kalangan Suku Lio juga mengadakan ritual semacam ini. Sesajen atau kuwiroe (menurut istilah masyarakat Suku Lio) adalah sebentuk ritual yang ditujukan kepada para dewa, roh, atau arwah nenek moyang. Tujuannya tentu saja dengan sebuah keyakinan bahwa dengan kuwiroe tersebut diharapkan arwah-arwah leluhur bisa memberi perlindungan hidup kepada mereka.
Itu hanya sebagian ritual musyrik yang dilakukan sebagaian masyarakat Indonesia, didaerah lain masih banyak hal serupa yang dilakukan masyarakat. Kadang kala mereka masih mencampurkan yang hak dan yang bathil, walaupun mereka sudah memeluk agama islam diantara mereka masih ada yang ikut ikutan melakukan ritual tersebut, karena menganggap itu merupakan adat nenek moyang mereka yang perlu dilestarikan.
Pada dasarnya semua kegiatan ritual yang dilakukan untuk yang mbaurekso atau penguasa ghaib pada suatu tempat termasuk perbuatan musyrik mempersekutukan Allah. Disadari atau tidak mereka telah menyembah Jin, sebagaimana telah disebutkan Allah dalam surat Saba ayat 40-41:
40. Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?.” 41. Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu (Saba 40-41)
Pada tempat tertentu yang dianggap angker seperti jembatan, pintu air, makam keramat, petilasan , danau, waduk , masyarakat setempat juga sering melakukan ritual memberikan sesaji mohon keselamatan pada penguasa tempat itu. Biasanya ritual itu dilakukan atas permintaan jin yang berhasil masuk kedalam tubuh seseorang. Ketika terjadi kecelakaan yang meminta korban jiwa maka Jin penghuni tempat itu masuk kedalam tubuh orang yang lemah dan ia mulai membual, bahwa ialah yang menyebabkan semua itu. Agar kejadian serupa tidak terjadi lagi ia minta agar diberikan sesaji berupa kepala kerbau, buah buahan atau sesajen lainnya. Masyarakat yang merasa takut kemudian memenuhi permintaan jin itu, maka terjadilah kegiatan ritual rutin seperti itu pada saat yang telah ditentukan oleh jin penguasa tempat itu. Jin merasa senang karena mereka berhasil mempedaya manusia yang katanya derajatnya lebih tinggi dari mereka.
Salah satu kegiatan ritual yang disebut sedekah bumi dilakukan oleh masyarakat setempat dengan menanam kepala kerbau di pintu air KO delapan didesa Tirtamulya Karawang, dengan harapan yang mbaurekso akan mendatangkan kemakmuran bagi sawah mereka yang diairi dari pintu air tersebut. Team Dua Dunia dari Trans 7 yang dipimpin ustadz Hakim Bawazir berusaha mengungkap kegiatan ritual itu dengan mengajak berdialogh Jin yang menguasai tempat itu.
Jin penghuni pintu air itu merasa senang bahwa mereka telah berhasil mempedaya masyarakat disitu untuk melakukan semua kegiatan ritual tersebut. Semua itu adalah perbuatan musyrik yang dilarang agama. Untuk jelasnya silahkan ikuti video dialog dengan jin pada video berikut dibawah ini.
Banyak masyarakat awam yang kurang pengetahuan agamanya melakukan ritual musyrik ini, mereka merasa itu adalah adat leluhur atau nenek moyang yang harus dilestarikan. Padahal semua itu merupakan kegiatan musyrik yang dilarang Allah. Tanpa disadari mereka sudah menjadi budak dari golongan Jin sebagimana disebutkan dalam surat Saba’ ayat 41 diatas.
Mandi Kembang Mobil Esemka Amalan Musyrik !
Feb 25, 2012
http://www.topix.com/forum/world/malaysia/T88HJU1FI0M8APE8N
Mandi Kembang Mobil Esemka: Menyambut Prestasi dengan Kemusyrikan
SOLO (voa-islamcom)– Kemajuan teknologi yang diraih anak-anak bangsa tak menambah rasa syukur kepada Tuhan. Prestasi siswa SMK memproduksi Mobil Esemka malah diiringi dengan ritual kemusyrikan.
Sehari menjelang keberangkatan Mobil Esemka ke Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi (BTMP) Serpong Tangerang, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menggelar Wilujengan dan Jamasan Mobil Esemka, Kamis malam (23/02/2012). Layaknya upacara selamatan dalam adat Jawa, Wali Kota Solo Joko Widodo juga menyiapkan satu set tumpeng lengkap yang berisi nasi gurih, ingkung, sambel goreng ati dan kedelai hitam.
Bejana perak berukuran cukup besar berisi air dan bunga setaman tujuh warna pun sudah disiapkan untuk menjamasi mobil yang fenomenal tersebut.
Suasana sakral semakin terasa di ruang Teaching Factory SMK, Jl Ki Hajar Dewantara Jebres Solo, tempat digelarnya ritual tersebut. Mobil Esemka AD 1 A pun dihias dengan untaian kembang setaman di seluruh bagian mulai dari kap depan, atap mobil, hingga bagian belakang mobil.
Diiringi alunan lagu Dandang Gula dalam balutan tari putri sesaji, Wahyu Santoso Prabowo sebagai penari utama atau “pancer” dikelilingi empat penari putri, memulai “jamasan”, Kamis malam di Solo Techno Park (STP).
Secara perlahan air bunga tujuh rupa dalam bejana perunggu disiramkan ke bagian depan mobil. Alunan lagu dan gending Jawa terus dimainkan dengan pelan sehingga memberikan rasa khidmat prosesi “jamasan”. Secara berturut-turut Walikota Solo Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Walikota FX Hadi Rudyatmo ikut menyiramkan air bunga ke badan mobil Esemka Rajawali.
Enam tokoh agama Islam, Protestan, Katolik, Buddha, Hindu dan Konghucu menyaksikan seksama prosesi budaya Jawa tersebut. Begitu juga para tamu undangan yang terdiri dari para budayawan, seniman, kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan pejabat terkait. Tampak hadir dalam prosesi Jamasan Esemka Rajawali menjelang keberangkatan menuju Tangerang untuk uji emisi, Sekda Solo, Budi Suharto; Ketua DPRD, YF Sukasno, anggota DPR, Roy Suryo.
Enam pemuka bermacam-macam agama itu kemudian memanjatkan doa secara bergantian bagi kesuksesan dan keselamatan misi uji emisi Esemka Rajawali. Para pemuka agama itu kompak mendoakan kelancaran perjalanan rombongan Esemka Rajawali menuju Tangerang. Tidak itu saja, mereka juga mendoakan supaya mobil rakitan para siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) di Solo itu lulus uji emisi dan menjadi embrio mobil nasional (mobnas).
Joko Widodo mengatakan ritual jamasan biasanya dilakukan terhadap benda yang dianggap penting dan memberi pengaruh pada jiwa seseorang. Ritual masyarakat Jawa ini sering diselenggarakan di Keraton Kasunanan Surakarta pada momentum khusus. "Pada dasarnya kita berdoa untuk keselamatan Esemka dalam perjaanan dan kesuksesan uji emisi Esemka," kata pria yang akrab disapa Jokowi itu.
Jamasan mobil, kata Jokowi, memang jarang dilaksanakan. Namun untuk mobil Esemka, dirinya menilai sangat layak menerima doa yang diwujudkan melalui prosesi jamasan. Jokowi dan Rudy yang malam itu kompak mengenakan baju beskap lurik khas Solo, bersama-sama mengguyur mobil esemka dengan air suci selepas doa-doa dipanjatkan.
Senada itu, koordinator proses Jamasan Esemka Rajawali, Bambang Suhendro, saat ditemui wartawan menjelaskan esensi acara yakni doa kawilujengan atau keselamatan. Berharap perjalanan rombongan untuk uji emisi Esemka lancar, begitu juga Esemka lulus uji emisi. Perihal adanya ingkung, beras putih, sambal goreng, kerupuk rambak, kedelai hitam, jajan pasar dan air bunga setaman, menurut Bambang, merupakan bagian dari prosesi tradisi.
Selain sesaji, rangkaian bunga pandan, melati, kantil juga menjadi hiasan aksesori mobil untuk penolak bala.”Hiasan aksesori ini sebagai hiasan sebagai simbol bahwa Esemka ini benar-benar menjadi poin utama dari prosesi. Kembang setaman mawar jambon, mawar merah dan putih, kantil kuning dan kantil putih, kenanga dan melati untuk membersihkan dari sukerto atau halangan selama perjalanan,” terangnya.[taz/slo, trb] Jum'at, 24 Feb 2012
http://www.topix.com/forum/world/malaysia/T88HJU1FI0M8APE8N
Mandi Kembang Mobil Esemka: Menyambut Prestasi dengan Kemusyrikan
SOLO (voa-islamcom)– Kemajuan teknologi yang diraih anak-anak bangsa tak menambah rasa syukur kepada Tuhan. Prestasi siswa SMK memproduksi Mobil Esemka malah diiringi dengan ritual kemusyrikan.
Sehari menjelang keberangkatan Mobil Esemka ke Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi (BTMP) Serpong Tangerang, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menggelar Wilujengan dan Jamasan Mobil Esemka, Kamis malam (23/02/2012). Layaknya upacara selamatan dalam adat Jawa, Wali Kota Solo Joko Widodo juga menyiapkan satu set tumpeng lengkap yang berisi nasi gurih, ingkung, sambel goreng ati dan kedelai hitam.
Bejana perak berukuran cukup besar berisi air dan bunga setaman tujuh warna pun sudah disiapkan untuk menjamasi mobil yang fenomenal tersebut.
Suasana sakral semakin terasa di ruang Teaching Factory SMK, Jl Ki Hajar Dewantara Jebres Solo, tempat digelarnya ritual tersebut. Mobil Esemka AD 1 A pun dihias dengan untaian kembang setaman di seluruh bagian mulai dari kap depan, atap mobil, hingga bagian belakang mobil.
Diiringi alunan lagu Dandang Gula dalam balutan tari putri sesaji, Wahyu Santoso Prabowo sebagai penari utama atau “pancer” dikelilingi empat penari putri, memulai “jamasan”, Kamis malam di Solo Techno Park (STP).
Secara perlahan air bunga tujuh rupa dalam bejana perunggu disiramkan ke bagian depan mobil. Alunan lagu dan gending Jawa terus dimainkan dengan pelan sehingga memberikan rasa khidmat prosesi “jamasan”. Secara berturut-turut Walikota Solo Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Walikota FX Hadi Rudyatmo ikut menyiramkan air bunga ke badan mobil Esemka Rajawali.
Enam tokoh agama Islam, Protestan, Katolik, Buddha, Hindu dan Konghucu menyaksikan seksama prosesi budaya Jawa tersebut. Begitu juga para tamu undangan yang terdiri dari para budayawan, seniman, kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan pejabat terkait. Tampak hadir dalam prosesi Jamasan Esemka Rajawali menjelang keberangkatan menuju Tangerang untuk uji emisi, Sekda Solo, Budi Suharto; Ketua DPRD, YF Sukasno, anggota DPR, Roy Suryo.
Enam pemuka bermacam-macam agama itu kemudian memanjatkan doa secara bergantian bagi kesuksesan dan keselamatan misi uji emisi Esemka Rajawali. Para pemuka agama itu kompak mendoakan kelancaran perjalanan rombongan Esemka Rajawali menuju Tangerang. Tidak itu saja, mereka juga mendoakan supaya mobil rakitan para siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) di Solo itu lulus uji emisi dan menjadi embrio mobil nasional (mobnas).
Joko Widodo mengatakan ritual jamasan biasanya dilakukan terhadap benda yang dianggap penting dan memberi pengaruh pada jiwa seseorang. Ritual masyarakat Jawa ini sering diselenggarakan di Keraton Kasunanan Surakarta pada momentum khusus. "Pada dasarnya kita berdoa untuk keselamatan Esemka dalam perjaanan dan kesuksesan uji emisi Esemka," kata pria yang akrab disapa Jokowi itu.
Jamasan mobil, kata Jokowi, memang jarang dilaksanakan. Namun untuk mobil Esemka, dirinya menilai sangat layak menerima doa yang diwujudkan melalui prosesi jamasan. Jokowi dan Rudy yang malam itu kompak mengenakan baju beskap lurik khas Solo, bersama-sama mengguyur mobil esemka dengan air suci selepas doa-doa dipanjatkan.
Senada itu, koordinator proses Jamasan Esemka Rajawali, Bambang Suhendro, saat ditemui wartawan menjelaskan esensi acara yakni doa kawilujengan atau keselamatan. Berharap perjalanan rombongan untuk uji emisi Esemka lancar, begitu juga Esemka lulus uji emisi. Perihal adanya ingkung, beras putih, sambal goreng, kerupuk rambak, kedelai hitam, jajan pasar dan air bunga setaman, menurut Bambang, merupakan bagian dari prosesi tradisi.
Selain sesaji, rangkaian bunga pandan, melati, kantil juga menjadi hiasan aksesori mobil untuk penolak bala.”Hiasan aksesori ini sebagai hiasan sebagai simbol bahwa Esemka ini benar-benar menjadi poin utama dari prosesi. Kembang setaman mawar jambon, mawar merah dan putih, kantil kuning dan kantil putih, kenanga dan melati untuk membersihkan dari sukerto atau halangan selama perjalanan,” terangnya.[taz/slo, trb] Jum'at, 24 Feb 2012
Laknatullah! CIREBON KEMBANGKAN WISATA MUSYRIK
Feb 2, 2013
http://www.topix.com/forum/world/malaysia/TRLR5F282QDH1N0N1
Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda dan Olahraga Budaya dan Pariwisata, Chairul Salam akan mengembangkan wisata musyrik, yang disebut sebagai wisata religi mauludan (maulid):
1. Ketika Muludan akan digelar peragaan busana muslim, dan pameran makanan tradisi Cirebon.
2. Ritual-ritual keagamaan yang rutin dilakukan dalam acara Muludan juga akan ditunjukkan dan lebih disosialisasikan. "Seperti dari ritual pencucian jimat, piring-piring bertuliskan kalimat tauhid,"
Cirebon - Salah satu daya tarik yang paling diminati turis ketika datang ke Cirebon adalah Tradisi Muludan. Untuk itu, pemerintah Kota Cirebon pun akan mengembangkan tradisi tersebut menjadi wisata religi bagi para wisatawan.
"Maulud (maulid-red) adalah sebuah tradisi yang berdasarkan keyakinan bahwa kelahiran Muhammad sebuah pencerahan, sehingga tradisi Maulud dikunjungi banyak orang tanpa diundang. Jadi kita akan eksplor muludan jadi lebih variatif," ujar Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda dan Olahraga Budaya dan Pariwisata (Dispora Budpar) Kota Cirebon, Chairul Salam dalam acara 'Wonderful Cirebon, Wonderful Train' di Kraton Kasepuhan Cirebon, Cirebon, Sabtu (2/2/2013).
Adapun beberapa cara yang akan dikembangkan ketika Muludan adalah peragaan busana muslim, dan pameran makanan tradisi Cirebon. "Mungkin nanti akan ada peragaan busana muslim," kata Chairul.
Tidak hanya itu, ritual-ritual keagamaan yang rutin dilakukan dalam acara Muludan juga akan ditunjukkan dan lebih disosialisasikan. "Seperti dari ritual pencucian jimat, piring-piring bertuliskan kalimat tauhid," tambah Chairul.
Selain pengembangan di bidang wisata religi, Kota Cirebon juga akan memperkenalkan wisata lewat pameran-pameran. "Even terdekat kita akan ikuti Festival Keraton Nusantara di Medan, pameran wisata di Batam dan di Bali," tutur Chairul.
Turis yang menggunakan kapal pesiar pun cukup banyak. Tahun lalu ada sekitar 300 wisatawan yang datang menggunakan kapal pesiar berlabuh di Cirebon.
"Kita juga akan kembangkan aspek ini (wisata kapal pesiar-red)," kata Wamenparekraf di kesempatan yang sama, Sapta Nirwandar.
Untuk tahun 2012, jumlah turis yang datang dari dalam negeri dan mancanegara naik 30 persen. Dengan dikembangkannya berbagai macam wisata di Cirebon, tentu jumlah kunjungan turis diperkirakan akan naik di tahun ini.
_http://travel.detik.com/read/ 2013/02/02/161615/2159562/1382 /cirebon-akan-kembangkan-mulud an-jadi-wisata-religi?vt220113 81
http://www.topix.com/forum/world/malaysia/TRLR5F282QDH1N0N1
Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda dan Olahraga Budaya dan Pariwisata, Chairul Salam akan mengembangkan wisata musyrik, yang disebut sebagai wisata religi mauludan (maulid):
1. Ketika Muludan akan digelar peragaan busana muslim, dan pameran makanan tradisi Cirebon.
2. Ritual-ritual keagamaan yang rutin dilakukan dalam acara Muludan juga akan ditunjukkan dan lebih disosialisasikan. "Seperti dari ritual pencucian jimat, piring-piring bertuliskan kalimat tauhid,"
Cirebon - Salah satu daya tarik yang paling diminati turis ketika datang ke Cirebon adalah Tradisi Muludan. Untuk itu, pemerintah Kota Cirebon pun akan mengembangkan tradisi tersebut menjadi wisata religi bagi para wisatawan.
"Maulud (maulid-red) adalah sebuah tradisi yang berdasarkan keyakinan bahwa kelahiran Muhammad sebuah pencerahan, sehingga tradisi Maulud dikunjungi banyak orang tanpa diundang. Jadi kita akan eksplor muludan jadi lebih variatif," ujar Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda dan Olahraga Budaya dan Pariwisata (Dispora Budpar) Kota Cirebon, Chairul Salam dalam acara 'Wonderful Cirebon, Wonderful Train' di Kraton Kasepuhan Cirebon, Cirebon, Sabtu (2/2/2013).
Adapun beberapa cara yang akan dikembangkan ketika Muludan adalah peragaan busana muslim, dan pameran makanan tradisi Cirebon. "Mungkin nanti akan ada peragaan busana muslim," kata Chairul.
Tidak hanya itu, ritual-ritual keagamaan yang rutin dilakukan dalam acara Muludan juga akan ditunjukkan dan lebih disosialisasikan. "Seperti dari ritual pencucian jimat, piring-piring bertuliskan kalimat tauhid," tambah Chairul.
Selain pengembangan di bidang wisata religi, Kota Cirebon juga akan memperkenalkan wisata lewat pameran-pameran. "Even terdekat kita akan ikuti Festival Keraton Nusantara di Medan, pameran wisata di Batam dan di Bali," tutur Chairul.
Turis yang menggunakan kapal pesiar pun cukup banyak. Tahun lalu ada sekitar 300 wisatawan yang datang menggunakan kapal pesiar berlabuh di Cirebon.
"Kita juga akan kembangkan aspek ini (wisata kapal pesiar-red)," kata Wamenparekraf di kesempatan yang sama, Sapta Nirwandar.
Untuk tahun 2012, jumlah turis yang datang dari dalam negeri dan mancanegara naik 30 persen. Dengan dikembangkannya berbagai macam wisata di Cirebon, tentu jumlah kunjungan turis diperkirakan akan naik di tahun ini.
_http://travel.detik.com/read/ 2013/02/02/161615/2159562/1382 /cirebon-akan-kembangkan-mulud an-jadi-wisata-religi?vt220113 81
Subscribe to:
Posts (Atom)