Thursday, 5 September 2013

TEACHER

My great-great grandma was one of our country's pioneer teacher. So was my dad, my mother, cousin, me.

There is no better way to learn than to teach.
BENJAMIN WHICHCOTE, Moral and Religious Aphorisms

It is better to teach a few things perfectly than many things indifferently.
ANDRÉ MAUROIS, An Art of Living

Teaching is one of the noblest of professions. It requires an adequate preparation and training, patience, devotion, and a deep sense of responsibility. Those who mold the human mind have wrought not for time, but for eternity.
CALVIN COOLIDGE, speech, Jul. 4, 1924

The whole art of teaching is only the art of awakening the natural curiosity of young minds for the purpose of satisfying it afterwards.
ANATOLE FRANCE, The Crime of Sylvestre Bonnard

Great knowledge is requisite to instruct those who have been well instructed, but still greater knowledge is requisite to instruct those who have been neglected.
HORACE MANN, Thoughts

History is philosophy teaching by examples.
THUCYDIDES, The History of the Peloponnesian War

Some of the world's best educators are grandparents.
DR. CHARLIE W. SHEDD, as quoted in Just Grandparents

The key to fixing education is better teaching, and the key to better teaching is figuring out who can teach and who can't.
JONATHAN ALTER, Newsweek, Jun. 15, 2009

No man is so learned but he may be taught; neither is any one so illiterate but he may teach.
WILLIAM SCOTT DOWNEY, Proverbs

A teacher who is attempting to teach without inspiring the pupil with a desire to learn, is hammering on cold iron.
HORACE MANN, Thoughts
I
f you have forgotten how to be a child you cannot teach children.
AUSTIN O'MALLEY, Keystones of Thought

Year after year students tumble along like the waters of a river. They flow away, and only the teacher is left behind, like some deeply buried rock at the bottom of the current.
KOBO ABE, The Woman in the Dunes

None can teach admirably if not loving his task.
AMOS BRONSON ALCOTT, Table Talk

Teachers, who are really good create that environment where you can be very satisfied by the process of learning. If you do something and you find it a very satisfying experience then you want to do more of it. The great teachers somehow convey in their very attitude and their words and their actions and everything they do that this is an important thing you're learning. You end up wanting to do more of it and more of it and more of it. That's a real talent some people have to convey the importance of that and to reflect it back to the students.
JEFF BEZOS, Academy of Achievement interview, May 4, 2001

If I were president? First thing I'd do is take care of the schoolteachers. I'm not saying we should start 'em out with six figures, but in some places they've got to be mother, father, brother, sister, and mentor. They're real important people. Let's give 'em a raise — and attract the best people to the job.
CARMELLO ANTHONY, Esquire, Jan. 2005

These days, teachers have it rough. Kids can be hyperactive, disobedient, and obnoxious. It must feel like being locked in a room of drunk midgets.
CRAIG FERGUSON, The Late Late Show with Craig Ferguson, May 8, 2012

I have come to believe that a great teacher is a great artist and that there are as few as there are any other great artists. It might even be the greatest of the arts since the medium is the human mind and spirit.
JOHN STEINBECK, "...like captured fireflies"

The important thing is not so much that every child should be taught, as that every child should be given the wish to learn.
JOHN LUBBOCK, The Pleasures of Life

One repays a teacher badly if one remains always only a student.
FRIEDRICH NIETZSCHE, Thus Spoke Zarathustra

Teach for America - teacher recruitment program
AFT - American Federation of Teachers

Friday, 23 August 2013

Night at the Office

I, again for the upteenth time, pass the night at my current office, rather than going home only to lose much money and time since it is a long journey.

Long journey it is. So here it goes:

















Rest well, my beloved sisters and brothers wherever and whenever you are.


Tuesday, 13 August 2013

Vlad Dracula

VLAD DRACULA:KISAH NYATA PEMBANTAIAN UMAT ISLAM

Nama aslinya Vlad Tepes (dibaca Tse-pesh). Dia lahir sekitar bulan Desember 1431 M di Benteng Sighisoara, Transylvania, Rumania. Ayahnya bernama Basarab (Vlad II), yang terkenal dengan sebutan Vlad Dracul, karena keanggotaannya dalam Orde Naga. Dalam bahasa Rumania, “Dracul” berarti naga. Sedangkan akhiran “ulea” artinya “anak dari”. Dari gabungan kedua kata itu, Vlad Tepes dipanggil dengan nama Vlad Draculea ( dalam bahasa Inggris dibaca Dracula), yang berarti anak dari sang naga.
Ayah Dracula adalah seorang panglima militer yang lebih sering berada di medan perang ketimbang di rumah. Praktis Dracula hanya mengenal sosok sang Ibu, Cneajna, seorang bangsawan dari kerajaan Moldavia. Sang ibu memang memberikan kasih sayang dan pendidikan bagi Dracula. Namun itu tidak mencukupi untuk menghadapi situasi mencekam di Wallachia saat itu. Pembantaian sudah menjadi tontonan harian. Seorang raja yang semalam masih berkuasa, di pagi hari kepalanya sudah diarak keliling kota oleh para pemberontak.
Pada usia 11 tahun, Dracula bersama adiknya, Radu, dikirim ke Turki. Hal ini dilakukan sang Ayah sebagai jaminan kesetiaannya kepada kerajaan Turki Ustmani yang telah membantunya merebut tahta Wallachia dari tangan Janos Hunyadi. Selama di Turki, kakak beradik ini memeluk agama Islam, bahkan mereka juga sekolah di madrasah untuk belajar ilmu agama. Tak seperti adiknya yang tekun belajar, Dracula justru sering mencuri waktu untuk melihat eksekusi hukuman mati di alun-alun. Begitu senangnya dia melihat kepala-kepala tanpa badan dipancang di ujung tombak. Sampai-sampai sehari saja tidak ada hukuman mati, maka dia segera menangkap burung atau tikus, kemudian menyiksanya dengan tombak kecil sampai mati.
Dengan status muslimnya, Dracula mempunyai kesempatan belajar kemiliteran pada para prajurit Turki yang terkenal andal dalam berperang. Dalam waktu singkat dia bisa menguasai seni berperang Turki, bahkan melebihi prajurit Turki lainnya. Hal ini menarik perhatian Sultan Muhammad II ( di Eropa disebut Sultan Mehmed II). Hingga pada tahun 1448 M, menyusul kematian Ayah dan kakaknya, Mircea, yang dibunuh dalam kudeta yang diorganisir Janos Hunyadi, Kerajaan Turki mengirim Dracula untuk merebut Wallachia dari tangan salib Kerajaan Honggaria. Saat itu Dracula berusia 17 tahun.
Many Faces of Vlad Dracula
Aksi Biadab Dracula
Dengan bantuan Turki Dracula dapat merebut tahta Wallachia. Setelah itu, sebagian besar pasukan kembali ke Turki dengan menyisakan sebagian kecil di Wallachia. Tanpa pernah diduga, Dracula murtad dan berkhianat. Dia menyatakan memisahkan diri dari Turki. Para prajurit Turki yang tersisa di Wallachia ditangkapi. Setelah beberapa hari disekap di ruang bawah tanah, mereka diarak telanjang bulat menuju tempat eksekusi di pinggir kota. Di tempat ini seluruh sisa prajurit Turki dieksekusi dengan cara disula. Yakni dengan ditusuk duburnya dengan balok runcing sebesar lengan, kemudian dipancangkan di tengah lapangan.
Dua bulan kemudian Janos Hunyadi berhasil merebut tahta Wallachia dari tangan Dracula. Namun pada tahun 1456 hingga 1462 Dracula kembali berkuasa di Wallachia. Masa pemerintahannya kali ini adalah masa-masa teror yang sangat mengerikan. Yang menjadi korban aksi sadisnya bukan hanya umat Islam yang tinggal di Wallachia, tapi juga para tuan tanah dan rakyat Wallachia yang beragama Khatolik.
Di hari Paskah tahun 1459, Dracula mengumpulkan para bangsawan dan tuan tanah beserta keluarganya di sebuah gereja dalam sebuah jamuan makan. Setelah semuanya selesai makan, dia memerintahkan semua orang yang ada ditempat itu ditangkap. Para bangsawan yang terlibat pembunuhan ayah dan kakaknya dibunuh dengan cara disula. Sedang lainnya dijadikan budak pembangunan benteng untuk kepentingan darurat di kota Poenari, di tepi sungai Agres. Sejarawan Yunani, Chalcondyles, memperkirakan jumlah semua tahanan mencapai 300 kepala keluarga. Terdiri dari laki-laki dan perempuan, orang tua, bahkan anak-anak.
Aksi Dracula terhadap umat Islam di Wallachia jauh lebih sadis lagi. Selama masa kekuasaannya, tak kurang dari 300 ribu umat Islam dibantainya. Berikut sejumlah peristiwa yang digunakan Dracula sebagai ajang pembantaian umat Islam:
Pembataian terhadap prajurit Turki di ibu kota Wallachia, Tirgoviste. Ini terjadi pada awal kedatangannya di sana, setelah mengumumkan perlawanannya terhadap Turki.
Hutan Mayat yang Tersula
Pada 1456, Dracula membakar hidup-hidup 400 pemuda Turki yang sedang menimba ilmu pengetahuan di Wallachia. Mereka ditangkapi dan ditelanjangi, lalu diarak keliling kota yang akhirnya masukkan ke dalam sebuah aula. Aula tersebut lalu dibakar dengan ratusan pemuda Turki di dalamnya.
Aksi brutal lainnya, adalah pembakaran para petani dan fakir miskin Muslim Wallachia pada acara penobatan kekuasaannya. Para petani dan fakir miskin ini dikumpulkan dalam jamuan makan malam di salah satu ruangan istana. Tanpa sadar mereka dikunci dari luar, kemudian ruangan itu dibakar.
Dendam Dracula terhadap Turki dan Islam semakin menjadi. Untuk menyambut hari peringatan St. Bartholome, 1459, dia memerintahkan pasukannya untuk menangkapi para pedagang Turki yang ada di Wallachia. Dalam waktu sebulan terkumpullah 30 ribu pedagang Turki beserta keluarganya. Para pedagang yang ditawan ditelanjangi lalu digiring menuju lapangan penyulaan. Lalu mereka disula satu persatu.
Aksi kejam lainnya adalah dengan menyebar virus penyakit mematikan ke wilayah-wilayah yang didiami kaum Muslimin. Dia juga memerintahkan pasukannya meracuni Sungai Danube. Ini adalah taktik Dracula untuk membunuh pasukan Turki yang membangun kubu pertahanan di selatan Sungai Danube.
Pada 1462 M, Sultan Turki, Muhammad II mengirim 60 ribu pasukan untuk menangkap Dracula hidup atau mati. Pemimpin pasukan adalah Radu, adik kandung Dracula. Mengetahui rencana serangan ini, Dracula menyiapkan aksi terkejamnya untuk menyambut pasukan Turki.
Sepekan sebelum penyerangan, dia memerintahkan pasukannya untuk memburu seluruh umat Islam yang tersisa di wilayahnya. Terkumpullah 20 ribu umat Islam yang terdiri dari pasukan Turki yang tertawan, para petani, dan rakyat lainnya. Selama empat hari mereka digiring dengan telanjang bulat dari Tirgoviste menuju tepi Sungai Danube. Dua hari sebelum pertempuran, para tawanan disula secara masal di sebuah tanah lapang. Mayat-mayat tersula tersebut kemudian diseret menuju tepi sungai. Lalu dipancang di kiri dan kanan jalan, yang membentang sejauh 10 km untuk menyambut pasukan Turki.
Pemandangan mengerikan ini hampir membuat pasukan Turki turun mental. Namun semangat mereka kembali bangkit saat melihat sang Sultan begitu berani menerjang musuh. Mereka terus merangsek maju, mendesak pasukan Dracula melewati Tirgoviste hingga ke Benteng Poenari.
Pasukan Turki yang dipimpin Radu berhasil mengepung Benteng Poenari. Merasa terdesak, isteri Dracula memilih bunuh diri dengan terjun dari salah satu menara benteng. Sedang Dracula melarikan diri ke Honggaria melalui lorong rahasia. Hingga tahun 1475 M Wallachia dikuasai oleh Kerajaan Turki, sebelum akhirnya direbut kembali oleh Dracula yang disokong pasukan salib dari Transylvania dan Moldavia.
Dracula tewas dalam pertempuran melawan pasukan Turki pimpinan Sultan Muhammad II di tepi Danau Snagov, pada Desember 1476. Kepala Dracula dipenggal, kemudian dibawa ke Konstantinopel untuk dipertunjukkan kepada rakyat Turki. Sedang badannya dikuburkan di Biara Snagov oleh para biarawan.
Selain melalui cerita turun-temurun rakyat Rumania, bukti-bukti sejarah terkait riwayat kelam Drakula juga tercatat dengan baik di sejumlah pamflet yang beredar di Jerman dan Rusia

Thursday, 25 July 2013


One song can spark a moment,

One flower can wake the dream
One tree can start a forest,
One bird can herald spring.


One smile begins a friendship,
One handclasp lifts a soul.
One star can guide a ship at sea,
One word can frame the goal


One vote can change a nation,
One sunbeam lights a room
One candle wipes out darkness,
One laugh will conquer gloom.


One step must start each journey.
One word must start each prayer.
One hope will raise our spirits,
One touch can show you care.


One voice can speak with wisdom,
One heart can know what’s true,


One life can make a difference,
You see, it’s up to you!

Monday, 8 July 2013

Ironi dalam Pelaksanaan Sumpah Pemuda

Ironi dalam Pelaksanaan Sumpah Pemuda


29 October 2011 | 06:30

Daniel H.t.

Umur Sumpah Pemuda saat ini sudah 83 tahun, tetapi kenapa sampai hari ini tiga isi pokok dari deklarasi bersama para pemuda dari seluruh Indonesia di tanggal 28 Oktober 1928 itu sampai hari ini masih juga belum terwujud sepenuhnya?

Salah satunya adalah soal berbahasa Indonesia. Sampai hari ini masih banyak orang Indonesia, warganegara Indonesia yang belum bisa menggunakan bahasanya sendiri secara baik dan benar.

Penyebab pokoknya antara lain adalah masih banyak dari kita yang belum bisa menghargai bahasa Indonesia, salah satu milik paling berharga bangsa sendiri. Bagaimana bisa menghargai kalau banyak di antara kita yang masih merasa lebih bergengsi menggunakan bahasa asing, terutama sekali bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia.

Padahal bahasa/istilah tersebut ada bahasa Indonesia-nya. Tetapi, karena merasa malu, turun gengsinya, kalau menggunakan bahasa Indonesia, maka digunakanlah bahasa Inggris, atau bahasa asing lainnya. Padahal yang bersangkutan sendiri belum tentu bisa berbahasa Inggris. Tak jarang penglafalannya pun salah. Kedengarannya lucu. Tetapi dia tetap nekad menggunakan bahasa Inggris/asing tersebut. Dia pikir daripada dianggap kurang gaul kalau pakai bahasa Indonesia, maka pokoknya pakai bahasa Inggris sekalipun ngawur penglafalannya.

Maka tak jarang untuk menyebutkan “makan pagi”, “makan siang”, “makan malam”. “janji”, “kesulitan”, “sedang bicara (dalam percakapan telepon)”, dan seterusnya, yang kita sering sekali dengar adalah “breakfast”, “lunch”, “dinner”, “appointment”, “trouble”, “sedang online”, dan masih banyak lagi.

Di tempat-tempat umum seperti mall yang pengunjungnya nyaris 100 persen orang Indonesia sendiri, banyak yang masih lebih suka menempelkan berbagai informasi umum dalam bahasa Inggris.

Sampai-sampaibeberapa saudara saya dari luar negeri sempat terheran-heran menyaksikan fenomena ini. Mereka lebih heran lagi karena ternyata mayoritas orang Indonesia tidak bisa berbahasa Inggris.

Karena sikap tidak menghargai bahasa sendiri inilah yang membuat sampai hari ini masih terdapat banyak kesalahan (salah kaprah) dalam berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Seperti di tempat-tempat parkir yang biasa kita lihat ada pengumuman: “Bebas Parkir”. Makna sebenarnya dari pemberitahuan tersebut adalah tidak boleh parkir. Bahwa daerah tersebut harus bebas dari kendaraan yang parkir. Sama dengan “Bebas Becak”, yang berarti daerah tersebut harus bebas dari becak. Tidak boleh ada becak di sana. Atau “Bebas Rokok”, artinya tidak boleh merokok.

Padahal maksud pembuat pengumuman “Bebas Parkir” itu adalah boleh parkir di lokasi tersebut dengan cuma-cuma alias gratis.

Salah kaprah tersebut akibat dari kesalahan menerjemahkan bahasa Inggris: “Free Parking”. Kata “free” diterjemahkan secara harafiah dengan kata “bebas”.
*
Sikap kurang menghargai bahasa Indonesia, bukan hanya datang dari masyarakat umum. Tetapi ironisnya justru lebih menonjol datang dari pejabat publik. Termasuk dari para pejabat tinggi negara kita. Yang seharusnya menjadi panutan, malah memberi contoh yang buruk bagi rakyatnya dalam menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar.
Dalam setiap pidato mereka banyak diselip istilah-istilah dalam bahasa Inggris. Tidak perduli penggunaannya dan penglafalannya sudah benar ataukah tidak. Tidak perduli apakah yang mendengarnya mengerti ataukah tidak. Bahkan tidak perduli, dia sendiri sebenarnya juga tidak mengerti.

Orang nomor satu di Republik Indonesia saat ini. Yakni, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, sudah lama dikenal suka menggunakan bahasa Inggris dalam pidato-pidatonya. Padahal istilah-istilah dalam bahasa Inggris itu ada bahasa Indonesia-nya.

Khusus tentang cara Presiden SBY berpidato dalam bahasa gado-gado (bahasa Indonesia campur bahasa Inggris) itu saya pernah menulisnya dalam sebuah tulisan saya yang berjudul: SBY Pidato, Wartawan Tertawa, yang dapat Anda baca kembali dengan mengklik judul tersebut.
*
Beberapa tahun lalu di Surabaya, pemerintah setempat pernah melakukan gerakan berbahasa Indonesia secara baik dan benar. Semua penggunaaan bahasa Indonesia yang dianggap menyalahi kaidah bahasa Indonesia baku di ruang publik ditertibkan.

Tetapi apa yang terjadi dalam pelaksanaanya itu?

Malah tambah kacau. Kenapa? Karena yang menertibkan adalah orang-orang pemerintahkota dan Satpol PP yang justru mereka sendiri tidak paham benar apa itu berbahasa Indonesia secara baik dan benar.

Selain itu cara penertibannya pun terkesan sangat konyol.

Betapa tidak, beberapa nama toko, perusahaan, dan restoran, serta tulisan-tulisan lainnya di berbagai media luar ruang, seperti papan nama, dan baliho, yang mereka anggap telah menggunakan bahasa asing, ditertibkan dengan cara mencoret dengan cat Pylox kata-kata tersebut. Hasilnya ketika itu, banyak pemandangan di Surabaya dihiasi dengan tulisan-tulisan yang dicoret-coret dengan cat Pylox! Mirip coretan-coretan grafitti liar yang biasa dilakukan orang-orang muda iseng di tembok-tembok kota. Tentu saja pemandangan kota menjadi kelihatan kotor.

Selain itu dalam penertiban tersebut, para penertib juga tidak bisa membedakan mana yang bahasa/istilah asing secara umum yang memang seharusnya tidak dipakai karena ada bahasa Indonesianya, dengan mana yang berupa nama sebuah usaha, yang meskipun dalam bahasa Inggris, tidak boleh diganti begitu saja ke dalam bahasa Indonesia. Karena nama-nama usaha tersebut telah terdaftar secara hukum.

Dengan mengubah nama usaha itu dalam bahasa Indonesia, tentu saja impilkasinya akan sangat luas. Misalnya, dalam pembuatan kontrak bisnis, menyangkut identitas perusahaan itu, dan sejenisnya.

Misalnya, nama Restoran “Tri-Star”, PT “Darmo Satelit Town”, tidak bisa begitu saja diganti ke dalam bahasa Indonesia menjadi Restoran “Tiga Bintang”, dan PT “Kota Satelit Darmo”. Karena secara hukum identitasnya akan menjadi tidak sama dengan akta pendirian, SIUP, NPWP dan sejensinya.
*
Dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda ke-83, pemerintah kota Surabaya baru-baru ini, tepatnya tanggal 28 Oktober 2011, melakukannya dengan memasang sebuah baliho raksasa di depan Gedung Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya.

Isi baliho tersebut adalah kutipan dari isi Sumpah Pemuda yang dideklarasikan pada 28 Oktober 1928 itu. Tetapi sayangnya, ternyata kutipan itu keliru.

Kutipan pada baliho tersebut sebagai berikut:
Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia
Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia

Padahal teks asli Sumpah Pemuda tidak begitu bunyinya. Teks asli Sumpah Pemuda tersebut bunyinya adalah sebagai berikut (disesuaikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan):
Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Baliho raksasa dengan biaya pembuatan yang tentu saja tidak sedikit itu hanya bertahan beberapa jam. Setelah mendapat kritikan dari beberapa warga kota Surabaya, baliho itu diturunkan kembali oleh pemerintah kota Surabaya.

Kejadian ini kembali menunjukkan bagaimana pemahaman dan penghargaan pejabat negara kita sendiri terhadap makna dari Sumpah Pemuda itu. Padahal mereka seharusnya menjadi panutan bagi masyarakat umum.

Maka tidak heran setelah 83 tahun, isi Sumpah Pemuda itu pun belum bisa benar-benar direalisasikan.

Apakah harus tunggu menjadi genap 100 tahun? ***