An acquaintance of mine once said that in doing something good, beneficial, kind, the only thing that matter is our will/intention/motivation. By that, i interpreted that's it, that's all.
Is It?
Wrong.
Not apprehending what we will or is doing, also what we've done, not finding the truth about it first, what effects it will cause, will i benefit others by doing so, etc, is a sin in itself. In the past, in the colonial era, the british and the french and some other old european powers launched their conquering campaign that spun for centuries, under the pretext of spreading peace, law, and order over their then becoming dominion. so, many of their young citizens joined their armed forces and eventually backed up the colonizing programme.
Did they do more goodness to the colonized countries' native inhabitants? Well, did we learn subjective or objective history?
What is good according to one man might not be good for another. Forcing our version of goodness then itself is violating kindness and good will principle. Yes, as long as we intend to do good it will be appreciated. By God, usually, not by fellow human. Why? Because each sides define everything from their own perception from the beginning.
But we do deemed to do goodness, kindness, right? So which is good and kind?
The bible says "Don't lay yourself to the opinion of others, but rely yourself on the opinion of God". The prophet Muhammad saw/pbuh said "Ignorance/foolishness/stupidity is so close to sin doing" If someone is not aware of what she/he is doing, she/he might end up doing something that is bad to others, without ever realizing nor intending to do so deliberately.
So, let's not base our decision on selfish, petty human thoughts. Let's find the truth. The real truth.
Monday, 31 August 2009
Egg Man
Humans tend to be like eggs sometimes. Hard on the outside, yet, like an egg, so thin that hardness is. Just superficially, skin deep, indeed, literally. While on the inside, lays the soft matter, which is the real one. Real egg, real human.
The soft one, protected by hard shell. Without it, that soft substance simply spilled out, making no good use. But after some treatment with heat, it'll make a beneficial product. Egg being incubated by the mother hen, for example, will God permits allow a chick to come out. Egg being boiled or fried etc, will make a nutritious food (Don't eat too much of them though).
So, don't be affraid to tempered, forged, by "heat" in this life. Like a german said, "What doesn't kill you will make you stronger".
Keep fighting the good fight, dear readers.
The soft one, protected by hard shell. Without it, that soft substance simply spilled out, making no good use. But after some treatment with heat, it'll make a beneficial product. Egg being incubated by the mother hen, for example, will God permits allow a chick to come out. Egg being boiled or fried etc, will make a nutritious food (Don't eat too much of them though).
So, don't be affraid to tempered, forged, by "heat" in this life. Like a german said, "What doesn't kill you will make you stronger".
Keep fighting the good fight, dear readers.
Answered by a Slap
A young man who has just returned from studying abroad comes approaching an ustadz (muslim cleric, or religious figure, for there's no priesthood in islam). After reception, he asks straightly to the point:
" I've been keeping these questions i got from abroad, and so far, no muslim, including ustadzs, ever be able to answer them. Then i approach you. May i ask them?"
The ustadz replies "with God's permission, i'll answer them".
The lad says "i told you, no muslim including any ustadz has ever be able to answer them up until now. Are you sure yo'll answer them?"
The ustadz, showing a bit of hesitation, replies "I'm God's servant. I'll strive to do what i need to do with His leave".
"Fine", replies the young man. "Here are they:
"Yup, there they are", replies the lad.
The ustadz says "give some time to ponder please"
"Surely", replies the boy.
"With God's permission, i'll answer them now"
Before the young man has time to do anything...
" I've been keeping these questions i got from abroad, and so far, no muslim, including ustadzs, ever be able to answer them. Then i approach you. May i ask them?"
The ustadz replies "with God's permission, i'll answer them".
The lad says "i told you, no muslim including any ustadz has ever be able to answer them up until now. Are you sure yo'll answer them?"
The ustadz, showing a bit of hesitation, replies "I'm God's servant. I'll strive to do what i need to do with His leave".
"Fine", replies the young man. "Here are they:
- Does God really exist? Proof it if you say so.
- What's this thing called fate? As if every man has her/his pre-destined destination.
- If you all believe satan was made out of fire, why would God throw him to hell anyway, at the end? Both are made of fire. Would something hurts other that has been made of the same substance?
"Yup, there they are", replies the lad.
The ustadz says "give some time to ponder please"
"Surely", replies the boy.
"With God's permission, i'll answer them now"
Before the young man has time to do anything...
WHAPP!!!
The ustadz slaps the young man's face hardly and swiftly. "What the...!?!", says the young man in awe. The ustadz then says "There goes your answer". The young man says "what kind of @#*% answer was that!?!"
The ustadz then says "What do you feel after i slapped you?" The lad says "Terrible pain!". The ustadz asks "Please explain to me what pain is. show it to me before my eyes, or hand it to my grab". "I can't!" replies the lad. "I can't even see it!". "But you believe it exists?", asks the ustadz. "Damn sure i do!" says the boy.
"Now so is God. We all can feel and believe His existence by feeling His presence, for example, by seeing all His creation. Although He Himself is yet visible".
"What my hand was made of?" asks the ustadz.
"Flesh and blood, bones, covered with skin", replies the young man.
"So we are the same, especially your cheek and my hand, and yet you still felt pain, correct?
"I did", answered the lad.
"What will prevent God from making hell made of fire able to hurt satan, who also had been made from the same substance then?"
"Have you predicted that i'd slap you?"
"No, replied the young man".
"There's fate. Something that ought to happen will eventually simply happen. We'll never guessed them out".
Does this story slap any of us?
Saturday, 29 August 2009
Monday, 30 March 2009
Menempa Besi Selagi Panas
Terima kasih untuk ibu Sitaresmi S. Sukanto. Bahasa Indonesia yang digunakan untuk tulisan asli saya edit.
Bila melihat saya membawa tiga anak kecil berusia 10, 7, dan 5 tahun dalam aksi damai untuk solidaritas bagi Palestina, mungkin kak Seto yang dikenal sebagai pecinta anak akan berkomentar " Tega sekali membawa anak long march berkilo-kilo selama 4 jam. Itu namanya eksploitasi anak. Wah, apalagi melihat ibu-ibu lain yang menggendong bayi-bayi mungil itu dalam barisan panjang melintasi bunderan HI, melewati kantor PBB, dan akhirnya mendengar pidato-pidato di depan kedubes AS di jalan Merdeka selatan. Bisa-bisa ada anggapan bahwa para orang tua yang merupakan para kader dakwah sering melakukan child abuse, terutama bila muslim berdemo. Benarkah?
Kita tak meragukan kak Seto sebagai tokoh pecinta anak. Ia memiliki lembaga pendidikan anak-anak pra-sekolah, selalu berada di sekitar anak, memperdulikan dan mencintai anak-anak Indonesia. namun tanpa mengurangi penghargaan kita pada kak Seto, kita menegaskan bahwa ini adalah masalah perbedaan paradigma. Yakni bagaimana pandangan kita tentang mencintai seorang anak. Juga perbedaan konsep tarbiyatul aulad (pendidikan anak). Anak -anak kita adalah anak-anak Palestina yang berjuang untuk kehidupannya tanpa dunia perlu merasa untuk mengasihani mereka. Anak-anak kita adalah anak-anak Afghanistan dan Irak, yang negerinya dibumihanguskan oleh kekejaman tentara AS. Anak-anak kita bukan anak-anak yang dimanjakan dengan boneka Barbie dan segala simbol kemewahan sehingga tumbuh menjadi manusia yang brillian tapi tidak dewasa, kaya harta tapi egois.
Salahkah jika orang tua muslim mendidik anak-anak mereka untuk menjadi anak-anak pemberani yang tangguh dan tahan banting? Mereka harus bertahan hidup dengan ikhtiar/usahanya sendiri. Bisakah para pecinta anak membayangkan trauma fisik dan psikis yang dialami seorang anak Palestina yang menyaksikan di depan matanya sendiri, bagaimana tentara yahudi memperkosa ibunya yang hamil secara bergiliran hingga keguguran, baru setelah itu membunuh ayahnya? Semua sudah di luar batas nalar dan kemanusiaan.
Dalam tragedi Bosnia Herzegovina di awal dekade 90-an, seorang anak Bosnia ditanya wartawan, mengapa ia bermain perang-perangan di tempat terbuka, dan bukannya bersembunyi di bunker-bunker. Mereka menjawab bahwa di setiap peluru sudah tertera nama nyawa yang harus diambilnya. "Biarpun kami bersembunyi, jika sudah takdirnya mati ya pasti mati. Dan walau kami di luar, tapi bila takdirnya belum mati ya tak kan mati" Jawaban anak-anak yang jujur, jernih, dan polos tersebut mencerminkan tebalnya aqidah mereka pada Allah swt.
Rasulullah saw sudah mengatakan dalam satu hadis beliau, bahwa ummat islam akan menjadi bulan-bulanan musuh islam, sehingga anak-anak muslim memang harus dididik menjadi pejuang-pejuang tangguh., yang tidak mengidap penyakit wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati.
Fatimah Heem Sarka, seorang muslimah Jerman, menjelaskan bahwa tahap pendidikan yang perlu diberikan kepada anak-anak muslim adalah sebagai berikut:
Di masjid Nabawi, Madinah, dan masjidil Haram, saya melihat bayi-bayi yang menemani ibunya shalat dengan tangisan. Namun mereka sadar itu adalah pengenalan dan pembiasaan sejak dini agar anak cinta ibadah dan masjid. Ada juga yang menggendong bayinya yang masih merah di punggung dan diajak tha'waf mengelilingi ka'bah di bawah terik matahari. Namun subhanallah, bayi itu tertidur dengan pulas dan ni'mat. Di sudut lain terlihat pula seorang kakek tengah mengajari cucunya yang berusia sekitar tiga tahun untuk rukuk dengan benar ketika shalat, sambil menuntun bacaan shalatnya.
Bagaimana pula dengan nabi Ibrahim as. yang dituntun Allah swt mendidik anaknya, Ismail as., tidak dengan memanjakan seperti yang kita pahami sebagai bentuk mencintai anak selama ini? Beliau meninggalkan bayi Ismail as. dan ibunya siti Hajar di tengah gersangnya tanah tandus Hijaz. Tak ada tanda-tanda air atau kehidupan lain di sana. Namun tsiqah billah menuntun siti Hajar dan nabi Ibrahim as. untuk tetap tegar melaksanakan perintah Allah swt. yang sekilas tidak masuk akal dan kejam, tega pada anak dan istri. Belum lagi perintah berikutnya, untuk menyembelih Ismail as. Mungkin para pecinta anak tak akan bisa lagi berkomentar apa-apa. Apakah nabi Ibrahim as. tidak mencintai anaknya? Sangat, sangat, karena setelah sekian lamanya ia menanti. Tapi perintah Allah swt lebih ia utamakan...dan bahagialah pada kesudahannya.
Jadi apalah arti melatih anak untuk ber-jihad, ber-long march sambil berteriak amerika dan israel teroris, dibanding anak-anak Palestina yang sudah memegang batu berhadapan langsung dengan yahudi? Adakah bentuk cinta pada anak yang lebih baik dibanding menanamkan ruhul jihad padanya? Bukankah besi perlu segera ditempa dan dibentuk selagi panas?
Bila melihat saya membawa tiga anak kecil berusia 10, 7, dan 5 tahun dalam aksi damai untuk solidaritas bagi Palestina, mungkin kak Seto yang dikenal sebagai pecinta anak akan berkomentar " Tega sekali membawa anak long march berkilo-kilo selama 4 jam. Itu namanya eksploitasi anak. Wah, apalagi melihat ibu-ibu lain yang menggendong bayi-bayi mungil itu dalam barisan panjang melintasi bunderan HI, melewati kantor PBB, dan akhirnya mendengar pidato-pidato di depan kedubes AS di jalan Merdeka selatan. Bisa-bisa ada anggapan bahwa para orang tua yang merupakan para kader dakwah sering melakukan child abuse, terutama bila muslim berdemo. Benarkah?
Kita tak meragukan kak Seto sebagai tokoh pecinta anak. Ia memiliki lembaga pendidikan anak-anak pra-sekolah, selalu berada di sekitar anak, memperdulikan dan mencintai anak-anak Indonesia. namun tanpa mengurangi penghargaan kita pada kak Seto, kita menegaskan bahwa ini adalah masalah perbedaan paradigma. Yakni bagaimana pandangan kita tentang mencintai seorang anak. Juga perbedaan konsep tarbiyatul aulad (pendidikan anak). Anak -anak kita adalah anak-anak Palestina yang berjuang untuk kehidupannya tanpa dunia perlu merasa untuk mengasihani mereka. Anak-anak kita adalah anak-anak Afghanistan dan Irak, yang negerinya dibumihanguskan oleh kekejaman tentara AS. Anak-anak kita bukan anak-anak yang dimanjakan dengan boneka Barbie dan segala simbol kemewahan sehingga tumbuh menjadi manusia yang brillian tapi tidak dewasa, kaya harta tapi egois.
Salahkah jika orang tua muslim mendidik anak-anak mereka untuk menjadi anak-anak pemberani yang tangguh dan tahan banting? Mereka harus bertahan hidup dengan ikhtiar/usahanya sendiri. Bisakah para pecinta anak membayangkan trauma fisik dan psikis yang dialami seorang anak Palestina yang menyaksikan di depan matanya sendiri, bagaimana tentara yahudi memperkosa ibunya yang hamil secara bergiliran hingga keguguran, baru setelah itu membunuh ayahnya? Semua sudah di luar batas nalar dan kemanusiaan.
Dalam tragedi Bosnia Herzegovina di awal dekade 90-an, seorang anak Bosnia ditanya wartawan, mengapa ia bermain perang-perangan di tempat terbuka, dan bukannya bersembunyi di bunker-bunker. Mereka menjawab bahwa di setiap peluru sudah tertera nama nyawa yang harus diambilnya. "Biarpun kami bersembunyi, jika sudah takdirnya mati ya pasti mati. Dan walau kami di luar, tapi bila takdirnya belum mati ya tak kan mati" Jawaban anak-anak yang jujur, jernih, dan polos tersebut mencerminkan tebalnya aqidah mereka pada Allah swt.
Rasulullah saw sudah mengatakan dalam satu hadis beliau, bahwa ummat islam akan menjadi bulan-bulanan musuh islam, sehingga anak-anak muslim memang harus dididik menjadi pejuang-pejuang tangguh., yang tidak mengidap penyakit wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati.
Fatimah Heem Sarka, seorang muslimah Jerman, menjelaskan bahwa tahap pendidikan yang perlu diberikan kepada anak-anak muslim adalah sebagai berikut:
- Penanaman aqidah
- Pembiasaan beribadah
- Pengokohan akhlak
- Penumbuhan ruhul jihad
Di masjid Nabawi, Madinah, dan masjidil Haram, saya melihat bayi-bayi yang menemani ibunya shalat dengan tangisan. Namun mereka sadar itu adalah pengenalan dan pembiasaan sejak dini agar anak cinta ibadah dan masjid. Ada juga yang menggendong bayinya yang masih merah di punggung dan diajak tha'waf mengelilingi ka'bah di bawah terik matahari. Namun subhanallah, bayi itu tertidur dengan pulas dan ni'mat. Di sudut lain terlihat pula seorang kakek tengah mengajari cucunya yang berusia sekitar tiga tahun untuk rukuk dengan benar ketika shalat, sambil menuntun bacaan shalatnya.
Bagaimana pula dengan nabi Ibrahim as. yang dituntun Allah swt mendidik anaknya, Ismail as., tidak dengan memanjakan seperti yang kita pahami sebagai bentuk mencintai anak selama ini? Beliau meninggalkan bayi Ismail as. dan ibunya siti Hajar di tengah gersangnya tanah tandus Hijaz. Tak ada tanda-tanda air atau kehidupan lain di sana. Namun tsiqah billah menuntun siti Hajar dan nabi Ibrahim as. untuk tetap tegar melaksanakan perintah Allah swt. yang sekilas tidak masuk akal dan kejam, tega pada anak dan istri. Belum lagi perintah berikutnya, untuk menyembelih Ismail as. Mungkin para pecinta anak tak akan bisa lagi berkomentar apa-apa. Apakah nabi Ibrahim as. tidak mencintai anaknya? Sangat, sangat, karena setelah sekian lamanya ia menanti. Tapi perintah Allah swt lebih ia utamakan...dan bahagialah pada kesudahannya.
Jadi apalah arti melatih anak untuk ber-jihad, ber-long march sambil berteriak amerika dan israel teroris, dibanding anak-anak Palestina yang sudah memegang batu berhadapan langsung dengan yahudi? Adakah bentuk cinta pada anak yang lebih baik dibanding menanamkan ruhul jihad padanya? Bukankah besi perlu segera ditempa dan dibentuk selagi panas?
Subscribe to:
Posts (Atom)